Inovasi RVM Berbasis AI-IoT, Desa Kebontunggul Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Modern
Mojokerto, 18 September 2025 – Desa Kebontunggul di Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, menjadi pionir dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi. Melalui program pengabdian masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, desa ini tengah mengembangkan Reverse Vending Machine (RVM) berbasis Artificial Intelligence dan Internet of Things (AI-IoT) yang terintegrasi dengan dashboard digital.
Program ini bertujuan menjawab masalah klasik pengelolaan sampah di pedesaan, seperti rendahnya partisipasi masyarakat dalam menyetor sampah anorganik, ketiadaan sistem insentif, dan pencatatan manual yang menyulitkan transparansi. Dengan adanya RVM, warga dapat menyetorkan botol plastik atau kemasan sachet secara otomatis dan langsung mendapatkan poin digital yang bisa ditukar dengan produk BUMDes, seperti kompos dan bibit tanaman.

Selain itu, dashboard digital yang dikembangkan berfungsi sebagai sistem pencatatan modern. Melalui platform ini, kontribusi warga, jumlah sampah yang terkumpul, hingga distribusi poin insentif dapat dipantau secara transparan. Sistem ini juga menyajikan laporan otomatis yang memudahkan pengurus BUMDes dalam evaluasi usaha.
Hingga laporan kemajuan ini, tim pelaksana telah menyelesaikan koordinasi awal, observasi lapangan, serta perakitan prototipe RVM di laboratorium. Dashboard juga sudah memiliki antarmuka awal dengan fitur pencatatan sederhana. Pihak BUMDes Gajah Mada menunjukkan dukungan penuh, mulai dari penyediaan lokasi hingga komitmen menjalankan pencatatan digital.

Ketua tim pelaksana, Ardy Januantoro, S.Kom., M.MT, menyampaikan bahwa kehadiran teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat kapasitas kelembagaan BUMDes, sekaligus menciptakan model pengelolaan sampah modern yang dapat direplikasi di desa lain.
Program yang didanai sebesar Rp45 juta ini juga menargetkan publikasi ilmiah, liputan media, serta produksi video dokumentasi sebagai bagian dari luaran. Dalam dua bulan pasca implementasi, ditargetkan minimal 1.000 unit sampah anorganik terkumpul dengan partisipasi aktif dari 50 warga.
Dengan inovasi ini, Desa Kebontunggul berpotensi menjadi contoh sukses pengelolaan sampah berbasis teknologi di tingkat desa, sekaligus berkontribusi pada agenda nasional dalam mewujudkan ekonomi sirkular dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Sebagai penutup, tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) KEMDIKTISAINTEK atas dukungan pendanaan, arahan, serta fasilitasi yang memungkinkan terlaksananya program ini.




